Prank Tanpa Batas
Pada suatu pagi di bulan November 1810, ketenangan sebuah rumah mewah di No. 54 Berners Street, London, mendadak berubah menjadi kekacauan yang sulit dibayangkan. Seorang tukang sapu datang mengetuk pintu menawarkan jasa bersih-bersih. Penghuni rumah menolak dengan bingung, karena mereka tidak pernah memesan layanan tersebut. Namun penolakan itu hanyalah awal dari kehebohan panjang yang berlangsung sepanjang hari.
Setelah tukang sapu, orang-orang terus berdatangan. Ada pengacara yang membawa dokumen penting, apoteker dengan obat-obatan, pendeta yang siap menerima pengakuan dosa, hingga ahli bedah yang datang dengan peralatan amputasi. Seorang pengurus jenazah bahkan membawa peti mati, karena mendapat kabar bahwa salah satu penghuni rumah akan meninggal. Para pedagang pun ikut meramaikan suasana: tukang roti membawa ribuan kue tart dan kue pernikahan, tukang jahit membawa pakaian, sementara pedagang lain datang dengan gerobak penuh barang dagangan.
Semakin siang, jalan di sekitar rumah itu berubah menjadi lautan manusia, kereta kuda, dan gerobak pengangkut. Kemacetan tak terhindarkan. Orang-orang marah karena merasa dipermainkan, sementara yang lain justru bertahan di lokasi untuk menyaksikan siapa lagi yang akan tertipu berikutnya. Bahkan pejabat tinggi ikut datang: wali kota London, pejabat dari perusahaan dagang besar, hingga seorang bangsawan kerajaan. Semua hadir karena menerima surat yang meminta mereka datang ke alamat tersebut.
Belakangan diketahui bahwa kehebohan itu kemungkinan besar merupakan ulah seorang penulis sekaligus pelawak bernama Theodore Hook. Ia dikenal gemar melakukan lelucon. Konon, ia pernah bertaruh dengan temannya bahwa dalam waktu satu minggu ia bisa membuat rumah yang tenang di Berners Street menjadi alamat paling terkenal di London. Untuk membuktikan hal itu, ia mengirim sekitar seribu surat pesanan palsu kepada pedagang, pejabat, dan tokoh penting agar datang pada hari yang sama. Dari sebuah kamar penginapan di dekat lokasi, ia menyaksikan kekacauan itu seperti menonton pertunjukan.
Peristiwa yang kemudian dikenal sebagai Berners Street Hoax ini menunjukkan bahwa prank sebenarnya bukan fenomena baru. Dua abad sebelum media sosial muncul, manusia sudah menemukan kesenangan dalam menciptakan kejutan besar yang membuat orang lain kebingungan.
Namun jika dibandingkan dengan masa kini, ada satu perbedaan besar, yakni skala dan kecepatan penyebaran. Pada tahun 1810, untuk menciptakan prank dalam skala besar seseorang harus menulis ratusan atau ribuan surat secara manual. Butuh waktu berminggu-minggu untuk mempersiapkannya. Sementara sekarang, satu unggahan di media sosial dapat menjangkau jutaan orang hanya dalam hitungan jam.
Fenomena ini terlihat jelas dalam berbagai konten prank di internet. Video menjebak orang lain—membuat mereka panik, kaget, atau malu—sering kali menjadi viral karena dianggap lucu. Semakin dramatis reaksi korban, semakin tinggi pula kemungkinan video tersebut ditonton banyak orang.
Di Indonesia, tren ini berkembang sangat cepat. Media sosial dipenuhi berbagai konten prank dengan berbagai bentuk. Ada yang berpura-pura memberi hadiah, ada yang menakut-nakuti orang di tempat umum, bahkan ada yang sengaja mempermalukan orang lain demi reaksi dramatis di depan kamera. Salah satu kasus yang sempat menghebohkan adalah prank pemberian bantuan sosial berisi sampah kepada orang yang membutuhkan. Sebuah tindakan yang menuai kecaman luas karena dianggap merendahkan martabat korban.
Di sinilah persoalan utama akhirnya muncul. Dalam banyak kasus, prank tidak lagi sekadar candaan ringan, melainkan berubah menjadi eksploitasi. Korban dijadikan bahan hiburan publik tanpa persetujuan mereka. Sementara pembuat konten memperoleh keuntungan berupa popularitas, jumlah penonton, bahkan pendapatan iklan.
Kisah Berners Street sebenarnya memberikan cermin yang menarik bagi fenomena tersebut. Pada awalnya, orang-orang yang tertipu memang marah karena waktu dan uang mereka terbuang. Namun setelah mengetahui bahwa mereka menjadi korban lelucon, sebagian dari mereka justru bertahan di lokasi untuk melihat orang lain tertipu berikutnya. Ada unsur hiburan dalam melihat kekacauan yang terjadi.
Polanya tidak jauh berbeda dengan media sosial hari ini. Banyak orang mungkin mengkritik prank yang berlebihan, tetapi pada saat yang sama video semacam itu tetap ditonton dan dibagikan. Dengan kata lain, perhatian publik sering kali justru menjadi bahan bakar bagi semakin banyaknya konten semacam itu.
Karena itu, pelajaran dari Berners Street bukan sekadar tentang keisengan seorang pelawak dua abad lalu. Kisah itu menunjukkan bahwa humor yang melibatkan penipuan selalu berada di garis tipis antara hiburan dan kekacauan. Tanpa batas yang jelas, prank mudah berubah dari sekadar lelucon menjadi tindakan yang merugikan orang lain.
Di era media sosial, ketika satu video dapat menjangkau jutaan orang dalam sekejap, batas itu menjadi semakin penting. Sebab tawa yang kita nikmati di layar ponsel kadang lahir dari kebingungan, kemarahan, atau bahkan rasa malu orang lain.
Ditulis oleh Wurianto Saksomo, Kepala Bidang Persandian dan Keamanan Informasi.


