Jejak Kartu Lebaran
Di tengah notifikasi WhatsApp yang bertubi-tubi setiap lebaran, sulit membayangkan bahwa dulu orang menunggu dengan sabar secarik kartu ucapan datang ke rumah. Kartu lebaran, yang kini terasa usang, ternyata menyimpan cerita panjang. Bukan hanya tentang silaturahmi, tetapi juga tentang seni, identitas, bahkan politik. Dua artikel karya Hendri F. Isnaeni dan Aryono membantu kita melihat bahwa kartu lebaran adalah cermin kecil dari perubahan besar dalam masyarakat Indonesia.
Kalau ditarik jauh ke belakang, tradisi berkirim kartu memang bukan asli dari budaya Islam. Ia tumbuh dari kebiasaan global yang sudah ada sejak ribuan tahun silam, lalu berkembang pesat setelah era kartu pos di Eropa. Di Hindia Belanda, kebiasaan ini masuk bersama modernitas. Bersama mesin cetak, sistem pos, dan gaya hidup kaum terdidik. Dari sinilah kartu ucapan, termasuk kartu lebaran, mulai menemukan tempatnya.
Namun, sejak awal kartu lebaran tidak pernah benar-benar netral. Pada masa kolonial, kartu pos sering menampilkan gambar-gambar eksotis seperti candi atau lanskap tropis. Ini bukan sekadar estetika, tetapi juga cara kolonial membingkai Indonesia sebagai objek keindahan. Bahkan detail kecil, seperti sensor terhadap gambar patung yang dianggap “tidak sopan”, menunjukkan bahwa kartu sudah menjadi ruang tafsir dan kekuasaan.
Memasuki awal abad ke-20, kartu lebaran mulai digunakan secara lebih spesifik. Tapi yang menarik, ia tidak hanya berfungsi sebagai alat silaturahmi. Seperti dicatat oleh Hendri F. Isnaeni dalam Merdeka Kartu Lebaran di Historia edisi 31 Agustus 2010, kartu lebaran juga pernah menjadi media bisnis, misalnya ketika perusahaan mesin jahit menyelipkan pesan cicilan dalam ucapan lebaran. Di sini, kita melihat bagaimana ruang emosional keagamaan bisa dengan mudah disusupi kepentingan ekonomi.
Lebih jauh lagi, kartu lebaran bahkan pernah menjadi alat politik. Pada masa pendudukan Jepang, misalnya, kartu lebaran digunakan untuk menyebarkan propaganda. Slogan “Indonesia Merdeka” dimasukkan dalam kartu sebagai bagian dari strategi meraih simpati umat Islam. Ini menarik. Ucapan yang seharusnya personal berubah menjadi pesan kolektif yang sarat kepentingan.
Fenomena serupa muncul kembali pada era Orde Baru. Tokoh seperti Sri Bintang Pamungkas menggunakan kartu lebaran untuk menyampaikan kritik politik. Respon negara yang keras menunjukkan bahwa media sekecil kartu bahkan bisa dianggap berbahaya jika membawa gagasan yang “tidak diinginkan”.
Namun, kartu lebaran tidak hanya soal politik dan kekuasaan. Ia juga berkembang sebagai media seni. Di sinilah artikel Aryono dalam Keindahan dalam Kartu Lebaran di Historia edisi 3 Juni 2019 memberi lapisan perspektif yang berbeda. Kartu lebaran, terutama dari era 1950-an hingga 1990-an, menunjukkan perubahan selera estetika sekaligus cara pandang terhadap Islam.
Pada era 1950-an, kartu lebaran lebih banyak menampilkan lukisan manual dengan tema kehidupan sehari-hari: sungkem, bersalaman, dan suasana kekeluargaan. Islam hadir sebagai praktik sosial, bukan simbol visual. Bahkan, tidak ada representasi perempuan berjilbab dalam kartu-kartu tersebut. Ini menunjukkan bahwa nuansa religi saat itu lebih ditekankan pada nilai, bukan penampilan.
Memasuki tahun1970-an, kartu lebaran mulai dipengaruhi budaya populer. Figur selebritas seperti Titik Sandhora dan Muchsin Alatas muncul sebagai model kartu. Keduanya duet penyanyi terkenal di zaman itu. Lebaran menjadi lebih pop, lebih dekat dengan industri hiburan. Di sini, batas antara religius dan komersial mulai kabur.
Lalu, pada era 1980-an hingga 1990-an, teknologi desain grafis dan fotografi membawa perubahan besar. Kartu menjadi lebih berwarna, mengilap, dan variatif. Simbol-simbol Islam seperti masjid, kaligrafi, dan busana religius mulai lebih dominan. Ini menandai pergeseran penting. Dari Islam sebagai nilai sosial ke Islam sebagai identitas visual.
Perubahan ini tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial yang lebih luas. Meningkatnya kesadaran religius di masyarakat urban, globalisasi budaya visual, hingga perkembangan industri kreatif ikut membentuk wajah kartu lebaran. Seperti diamati kurator seni sekaligus dosen ISI Yogyakarta, Mikke Susanto, kartu lebaran adalah cara paling sederhana untuk membaca perubahan cara orang memaknai Islam.
Hari ini, kartu lebaran hampir hilang, tergantikan oleh pesan digital yang serba cepat. Tapi justru di sinilah kita kehilangan sesuatu yang penting, yakni rasa. Kartu lebaran dulu memiliki proses. Mulai dari dipilih, ditulis, dikirim, hingga ditunggu. Ada keterlibatan emosional yang tidak bisa digantikan oleh pesan instan.
Kita bisa melihat bahwa kartu lebaran adalah media yang unik. Ia berada di persimpangan antara seni, komunikasi, dan kekuasaan. Ia bisa menjadi alat silaturahmi, komoditas ekonomi, media estetika, sekaligus instrumen politik.
Hari ini, kartu lebaran memang mulai ditinggalkan. Namun yang lebih penting untuk direnungkan bukan sekadar pergeseran medianya, melainkan perubahan maknanya. Apakah ucapan lebaran kita masih membawa kehangatan, refleksi, dan kedalaman seperti dulu? Atau justru menjadi rutinitas digital yang cepat lewat?
Pada akhirnya, kartu lebaran mengingatkan kita bahwa setiap bentuk komunikasi selalu mencerminkan zaman. Dan dari secarik kartu kecil itu, kita belajar bahwa ucapan sederhana pun bahkan bisa menyimpan cerita besar tentang siapa kita. Sebagai individu, sebagai masyarakat, dan sebagai bangsa.
Ditulis oleh Wurianto Saksomo


