Kisah Sunyi Penjaga Negeri

15 April 2026

Setiap 4 April, kita memperingati Hari Persandian Nasional. Di tengah hiruk-pikuk dunia digital hari ini—ketika data, enkripsi, dan keamanan siber menjadi kata-kata yang akrab—ada baiknya kita menoleh ke masa ketika persandian lahir dari sesuatu yang jauh lebih sederhana. Dari bunyi azan yang diubah, gedhek yang dijatuhkan, dan pesan yang hanya dimengerti oleh mereka yang hidup dalam ancaman perang.

Di situlah perjalanan dr. Roebiono Kertopati, sang Bapak Persandian Indonesia, bertemu dengan perjuangan rakyat. Pada 4 April 1946, Roebiono membentuk Dinas Code, cikal bakal lembaga sandi negara yang kini diwarisi Badan Siber dan Sandi Negara. Tanggal itu kemudian ditetapkan sebagai Hari Persandian Nasional. Namun sesungguhnya, ruh persandian Indonesia sudah lebih dulu hidup di kampung-kampung, sebagaimana dikabarkan Kode Bahaya Masa Perang Kemerdekaan dalam Historia edisi 26 April 2020.

Kisah Soma di Sukanagara, Cianjur Selatan, pada tahun 1947, misalnya. Saat hendak mengumandangkan azan asar, matanya menangkap serdadu Belanda yang memasuki kampung. Di belakang surau, beberapa gerilyawan sedang mandi di sungai. Dalam kepanikan, mulutnya tak jadi melantunkan hayya ‘alash shalah, melainkan spontan berteriak, “Aya Walandaaa!” Ada Belanda!

Kalimat yang lahir dari rasa takut itu justru menyelamatkan banyak nyawa. Para gerilyawan segera menyebar, sebagian masuk hutan, sebagian lagi menyaru menjadi warga yang sedang bekerja. Dari momen sederhana itu kita belajar, bahwa dalam perang, kecerdasan sering lahir bukan dari ruang strategi yang megah, melainkan dari refleks orang biasa yang tahu apa yang harus dilakukan.

Di banyak kampung, tanda bahaya lazim disampaikan lewat kentongan. Bunyi itu merambat dari satu desa ke desa lain seperti denyut nadi yang bergerak cepat. Namun cara ini punya kelemahan, yakni terlalu mudah dikenali musuh. Tentara Belanda bisa membaca kampung mana yang berpihak kepada republik, lalu melampiaskan kemarahan dengan membakar rumah-rumah penduduk.

Dari pengalaman pahit itu lahirlah inovasi yang unik seperti di Banyumas dan kaki Gunung Sumbing, yaitu sistem geplak atau gedhek. Ini bukan alat modern, hanya tiang bambu setinggi sekitar 8–10 meter dengan anyaman bambu berbentuk papan di ujungnya. Didirikan di bukit-bukit pembatas desa, alat itu akan dijatuhkan ketika patroli Belanda terlihat bergerak. Desa lain yang melihatnya akan melakukan hal serupa. Tanpa suara, tanpa kabel, tanpa listrik, informasi menjalar jauh lebih cepat daripada langkah sepatu lars.

Jika dipikir, sistem ini seperti “grup pesan instan” versi masa gerilya: sederhana, murah, tapi efektif. Yang membuatnya bekerja bukan teknologinya, melainkan kepercayaan sosial antarwarga. Setiap orang tahu perannya. Setiap mata yang melihat menjadi bagian dari pertahanan bersama.

Kalau kita renungkan, inilah bentuk paling awal dari persandian Indonesia. Hal tersebut berupa sistem komunikasi yang hanya dipahami oleh pihak sendiri, cepat, senyap, dan menyelamatkan nyawa. Persis semangat itulah yang kemudian dilembagakan oleh Roebiono.

Latar belakang Roebiono sebenarnya jauh dari dunia intelijen. Ia seorang dokter lulusan NIAS Surabaya, yang pernah bertugas di Merauke, Morotai, hingga menghadapi wabah malaria dan pengungsi perang. Tetapi pengalaman hidup di masa perang membentuk satu kualitas penting. Ia menjadi teliti, tenang, dan mampu membaca situasi darurat.

Saat republik muda membutuhkan sistem komunikasi rahasia, Roebiono adalah orang yang tepat. Ia membangun Dinas Code dari ruang kecil, hanya dengan pensil, kertas, dan sedikit personel. Tetapi dari ruang sederhana itu, lahir tulang punggung komunikasi rahasia negara.

Yang membuat kisah ini menarik, kerja Roebiono sebenarnya adalah bentuk modernisasi dari kecerdikan rakyat tadi. Jika rakyat desa memakai azan, bambu, dan kentongan sebagai medium tanda bahaya, Roebiono mengubah semangat yang sama menjadi sistem kode, radio, dan komunikasi antarlembaga negara.

Yang satu menjaga gerilyawan di lereng gunung. Yang lain menjaga pesan diplomasi, perintah militer, dan keselamatan para pemimpin republik. Keduanya sama-sama bertumpu pada satu prinsip, bahwa informasi yang bocor bisa menjatuhkan perjuangan. Karena itu, Hari Persandian Nasional bukan sekadar peringatan lahirnya lembaga. Ia juga pengingat tentang watak dasar republik ini, yang bertahan hidup karena kecerdikan membaca dan menjaga informasi.

Ada sisi lain yang membuat Roebiono terasa istimewa. Hampir 38 tahun ia memimpin lembaga sandi, melewati pergantian rezim dari revolusi, parlementer, Demokrasi Terpimpin, hingga Orde Baru. Banyak tokoh besar jatuh bangun oleh politik, tetapi Roebiono tetap di tempatnya. Bukan karena lihai bermanuver, melainkan karena ia memilih menjadi pekerja, bukan pemain panggung. Di situlah teladan paling pentingnya.

Dalam budaya birokrasi kita hari ini, sering kali yang terlihat dan viral lebih dihargai daripada yang bekerja dengan senyap dan di balik layar. Padahal keamanan negara justru bergantung pada orang-orang yang mau setia pada fungsi, bukan popularitas. Roebiono mewakili etos kerja sunyi itu: profesional, tenang, bekerja dalam diam, dan berani tak dikenal.

Menariknya, jika pada masa perang rakyat memakai kode sederhana untuk menghindari patroli Belanda, hari ini kita menghadapi “musuh” yang bentuknya berbeda. Ia bisa berupa kebocoran data, serangan siber, manipulasi informasi, dan perang narasi digital. Medannya berubah, tetapi prinsipnya tetap sama. Republik masih membutuhkan orang-orang yang mampu membaca tanda bahaya lebih cepat daripada pihak lain.

Karena itu, memperingati 4 April seharusnya tidak berhenti pada seremoni. Ia semestinya menjadi momen untuk mengingat bahwa sejarah persandian Indonesia tumbuh dari perpaduan dua kecerdasan, yaitu kecerdikan rakyat menjaga kampung dan ketekunan Roebiono membangun sistem negara. Darinya kita belajar satu hal sederhana, bahwa bangsa ini bertahan bukan hanya karena keberanian bertempur, tetapi juga karena kecermatan menjaga pesan, meski tanpa pujian dan pujaan.

Ditulis oleh Wurianto Saksomo, Kepala Bidang Persandian dan Keamanan Informasi