Dinas Kominfo Tiksandi Ngawi Gelar Edukasi Keamanan Informasi Seri Ke-6 bagi Pelajar SMPN 3 Ngawi

Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik, dan Persandian (Kominfo Tiksandi) Kabupaten Ngawi kembali menggelar kegiatan Edukasi Keamanan Informasi Seri Ke-6 dengan tema “Etika Bermedia Sosial untuk Pencegahan Cyberbullying bagi Pelajar” di Aula SMP Negeri 3 Ngawi, Rabu (13/5/2026). Kegiatan ini diikuti sekitar 100 pelajar perwakilan SMPN 3 Ngawi.

Kegiatan diawali dengan pembukaan dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Selanjutnya, Kepala SMP Negeri 3 Ngawi, Eko Yudiono, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada Dinas Kominfo Tiksandi Ngawi atas terselenggaranya edukasi tersebut. Menurutnya, pemahaman mengenai etika bermedia sosial sangat penting bagi pelajar di tengah tingginya penggunaan media digital di kalangan remaja.

“Media sosial dapat memberikan manfaat besar apabila digunakan secara bijak. Namun di sisi lain juga dapat menimbulkan dampak negatif, salah satunya cyberbullying. Karena itu, siswa perlu memahami etika dan tanggung jawab dalam menggunakan media sosial,” ujarnya.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Dinas Kominfo Tiksandi Ngawi yang diwakili Kepala Bidang Persandian dan Keamanan Informasi, Wurianto Saksomo. Ia menyampaikan bahwa kegiatan edukasi keamanan informasi menjadi bagian dari upaya literasi digital kepada pelajar agar lebih aman, sehat, dan bertanggung jawab dalam berinteraksi di ruang digital.

“Kasus cyberbullying kerap berawal dari candaan yang dianggap sepele, komentar di media sosial, maupun perilaku saling mengejek di grup percakapan digital. Padahal, dampaknya dapat memengaruhi kesehatan mental korban,” katanya.

Setelah sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan foto bersama seluruh peserta dan narasumber. Berikutnya, peserta mendapatkan materi edukasi dan dialog interaktif bersama narasumber Aulia Andaryati, psikolog dari RSI Attin Husada Ngawi.

Dalam pemaparannya, Aulia menjelaskan bahwa cyberbullying sering kali muncul dalam bentuk komentar yang merendahkan, penyebaran foto tanpa izin, sindiran di media sosial, hingga pengucilan dalam grup percakapan. Ia mengingatkan bahwa tindakan yang dianggap bercanda belum tentu diterima dengan baik oleh orang lain.

“Bercanda itu kalau dua-duanya tertawa. Kalau hanya satu yang tertawa dan yang lain terluka, itu bukan bercanda lagi,” jelasnya.

Ia juga menekankan bahwa jejak digital di internet tidak mudah hilang. Karena itu, pelajar diharapkan lebih berhati-hati dalam menulis komentar, membagikan konten, maupun berinteraksi di media sosial.

Selain membahas dampak psikologis cyberbullying, Aulia juga memberikan edukasi mengenai keamanan digital, seperti pentingnya menjaga privasi akun, menggunakan kata sandi yang berbeda, tidak membagikan kode OTP, serta waspada terhadap tautan mencurigakan dan penipuan daring.

Melalui kegiatan ini, Dinas Kominfo Tiksandi Ngawi berharap para pelajar semakin memahami pentingnya etika bermedia sosial, mampu menghargai orang lain di ruang digital, serta menggunakan internet untuk hal-hal yang positif dan bermanfaat. (Persandian)