Iktikaf di Era Digital
Sepuluh malam terakhir Ramadhan selalu membawa suasana yang berbeda di masjid-masjid besar Indonesia. Karpet digelar lebih rapi, lampu menyala semalam suntuk, dan jamaah datang silih berganti untuk menjalankan iktikaf. Namun ada satu hal yang terasa berbeda di era sekarang. Selain sajadah dan mushaf, banyak orang juga membawa gawai. Iktikaf yang dulu identik dengan kesunyian spiritual kini ikut memasuki ruang digital.
Fenomena ini tergambar dalam laporan Kompas Edisi 16 Maret 2026 tentang iktikaf di beberapa masjid Jakarta seperti Masjid Cut Meutia, Masjid Istiqlal, dan Masjid Agung Sunda Kelapa. Di sana, suasana iktikaf terlihat beragam. Ada yang khusyuk membaca Al-Qur’an, ada yang tertidur kelelahan, ada pula yang sibuk dengan telepon genggamnya. Bahkan sebelum pulang, sebagian jamaah mengabadikan suasana masjid untuk dibagikan di media sosial.
Sekilas, pemandangan ini terasa paradoksal. Iktikaf selama ini dilakukan sebagai praktik mengasingkan diri dari hiruk-pikuk dunia untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Dalam ajaran Islam, ibadah ini dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW yang berdiam di masjid pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. Iktikaf adalah latihan spiritual untuk menenangkan diri, merenungi hidup, dan memusatkan perhatian sepenuhnya pada ibadah.
Namun realitas sosial tidak sesederhana definisi teologis. Dalam kehidupan nyata, praktik keagamaan selalu dipengaruhi oleh perubahan zaman. Ketika media sosial menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan modern, aktivitas religius pun ikut terdokumentasi di dalamnya. Di sinilah muncul dilema menarik. Apakah membagikan pengalaman ibadah di media sosial merusak keikhlasan, atau justru memperluas syiar?
Sebagian orang mungkin langsung mencurigai adanya unsur pamer. Dalam tradisi Islam, riya’ (memamerkan amal ibadah) dipandang sebagai penyakit spiritual yang bisa menggerus pahala. Foto seseorang yang sedang iktikaf, jika diposting ke media sosial, mudah dianggap sebagai bentuk pencitraan religius.
Namun realitasnya tidak selalu demikian. Ada juga motivasi yang lebih sederhana, yakni dokumentasi pengalaman spiritual atau ajakan kepada orang lain untuk ikut meramaikan masjid. Dalam laporan Kompas tersebut, seorang jamaah bahkan mengaku membagikan foto iktikaf agar teman-temannya tertarik melakukan hal yang sama.
Dari sudut pandang sosiologi agama, fenomena ini sebenarnya cukup wajar. Sosiolog Prancis Emile Durkheim menjelaskan bahwa ritual keagamaan tidak hanya membangun hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial di antara para penganutnya. Ketika banyak orang berkumpul dalam satu ritual, mereka mengalami apa yang disebut Durkheim sebagai collective effervescence atau ledakan emosi kolektif yang memperkuat identitas komunitas.
Media sosial, dalam konteks ini, memperluas ruang kolektif tersebut. Jika dulu pengalaman spiritual hanya terjadi di dalam masjid, kini ia bisa menyebar ke jaringan digital yang jauh lebih luas. Sebuah foto iktikaf bisa dilihat ribuan orang, bahkan memotivasi mereka datang ke masjid yang sama.
Menariknya, media sosial juga berperan praktis. Banyak anak muda mengetahui informasi tentang lokasi dan jadwal iktikaf dari platform digital. Tidak semua masjid buka sepanjang malam, sehingga informasi online membantu jamaah menemukan tempat untuk beribadah. Artinya, teknologi tidak selalu menjadi pengganggu spiritualitas. Dalam banyak kasus, ia justru menjadi jembatan yang menghubungkan generasi muda dengan praktik keagamaan yang mungkin sebelumnya terasa jauh.
Meski demikian, peringatan para ulama tetap relevan, bahwa inti ibadah tetap terletak pada keikhlasan. Media sosial hanyalah medium. Ia bisa menjadi sarana dakwah, tetapi juga bisa berubah menjadi panggung pencitraan. Di titik inilah iktikaf mengingatkan kita pada makna spiritual yang paling sederhana: kesunyian hati. Seseorang bisa berada di masjid terbesar, dikelilingi ribuan jamaah, bahkan memegang gawai di tangannya, tetapi yang menentukan kualitas ibadah tetaplah niat di dalam dirinya.
Pada akhirnya, transformasi iktikaf ke ruang digital menunjukkan satu hal penting, bahwa praktik spiritual beradaptasi dengan zaman. Ritualnya mungkin tetap sama, seperti shalat, dzikir, membaca Al-Qur’an, tetapi cara manusia mengalaminya terus berubah. Tantangan kita bukan menolak perubahan itu, melainkan menjaga agar ruh spiritualnya tidak ikut hilang di tengah arus notifikasi dan unggahan. Sebab tujuan akhir iktikaf bukanlah terlihat saleh di layar ponsel, melainkan menjadi lebih dekat kepada Tuhan dalam keheningan batin.
Ditulis oleh Wurianto Saksomo


