Tingkatkan Kapasitas ASN, Diskominfo Ngawi Ikuti Bimbingan Teknis
Dalam upaya mendongkrak kompetensi Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Ngawi, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Ngawi sukses menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Penulisan Karya Tulis Ilmiah (KTI). Bertempat di Kurnia Hall Ngawi, kegiatan yang berlangsung dinamis ini dihadiri oleh perwakilan dari berbagai Perangkat Daerah se-Kabupaten Ngawi, termasuk Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik, dan Persandian (Dinas Kominfo Tiksandi).
Acara dibuka secara resmi oleh Kepala Bappeda Kabupaten Ngawi, yang diwakili oleh Sekretaris Badan, Agus Sutopo. Dalam sambutannya, Agus menekankan bahwa KTI bukan sekadar prasyarat administratif atau konsumsi akademis semata, melainkan media strategis untuk melahirkan inovasi dan rekomendasi kebijakan yang berbasis data lapangan.
Bimtek kali ini menghadirkan narasumber tepercaya, Hayat, Direktur Unisma Press sekaligus Founder Alif Institute. Fokus utama materi yang dibedah secara mendalam adalah teknik penyusunan Policy Brief, sebuah dokumen ilmiah ringkas yang dirancang khusus untuk memandu pembuat kebijakan mengambil keputusan secara cepat dan tepat sasaran.
“Kebijakan yang baik bukan hanya tentang wacana, tetapi tentang keberanian menyederhanakan solusi agar bisa segera dirasakan dampaknya oleh masyarakat,” tegas Hayat di hadapan para peserta.
Menurutnya, policy brief yang ideal berkisar antara 1 hingga 8 halaman saja, jauh berbeda dengan laporan riset panjang yang sering kali membuat pengambil keputusan harus menyaring sendiri intisarinya. Dokumen ini harus memiliki tiga struktur utama yang kuat: Pendahuluan (urgensi masalah), Isi (analisis berbasis data), dan Rekomendasi (solusi praktis yang dapat segera dieksekusi).
Hayat juga mengajak para ASN Ngawi untuk meninggalkan gaya komunikasi birokrasi lama yang kaku, berbelit-belit, dan dipenuhi akronim membingungkan. Sebaliknya, ASN masa kini harus mengadopsi prinsip SAMAN:
- Sederhana: menggunakan kalimat pendek dengan satu gagasan per paragraf.
- Akurat: berbasis pada data, fakta lapangan, dan regulasi yang jelas, bukan sekadar asumsi.
- Menarik: memiliki judul yang kuat, narasi yang persuasif, serta visualisasi data yang rapi.
- Aspiratif: menyerap dan menjawab kebutuhan nyata dari warga serta pemangku kepentingan.
- Netral: menyajikan informasi secara objektif tanpa menyerang pihak mana pun.
Peserta juga ditantang untuk mampu mengubah data mentah (messy data) menjadi informasi yang menginspirasi (inspiring information), hingga akhirnya bermuara pada kebijakan pemecahan masalah (policy solving). Isu-isu strategis Kabupaten Ngawi seperti penurunan stunting, digitalisasi UMKM, dan teknologi pertanian menjadi contoh kasus utama yang dibedah dalam bimtek ini.
Tidak hanya mendengarkan teori, para peserta langsung diterjunkan ke dalam sesi kerja kelompok. Setiap kelompok diminta menyusun draf policy brief berdasarkan temuan permasalahan riil di lapangan, merumuskan opsi pemecahan, mempresentasikannya, hingga melakukan finalisasi draf yang siap diajukan.
Melalui keikutsertaan aktif dalam bimtek ini, Dinas Kominfo Tiksandi Ngawi berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas komunikasi publik dan penyusunan rekomendasi kebijakan yang berbasis bukti (evidence-based policy). Langkah ini diharapkan dapat mendukung akselerasi visi besar bersama, mewujudkan Ngawi yang Maju, Mandiri, dan Berkelanjutan. (Persandian)


