Home / Artikel / Kikis Kesenjangan, Kominfo Pacu Literasi Digital Perempuan

Kikis Kesenjangan, Kominfo Pacu Literasi Digital Perempuan

Jakarta, Kominfo – Guna memperkecil kesenjangan akses internet dan literasi digital di kalangan masyarakat, Kementerian Kominfo melakukan akselerasi edukasi khususnya kepada perempuan.

Staf Khusus Menteri Komunikasi dan Informatika  Bidang Literasi Digital, Dedy Permadi menyebutkan berdasarkan laporan utama World Wide Web Foundation yang berjudul “Women’s Rights Online”, pada 2018 lalu, kesenjangan gender di bidang digital cukup signifikan di Indonesia. “Rata-rata hanya 20% perempuan Indonesia memiliki akses internet, dan di antara mereka hanya 26% yang mengutarakan pendapat secara daring untuk mencari informasi yang kritis mengenai hak perempuan dan hanya 5% dari jumlah tersebut yang menggunakan internet untuk mengekspresikan pandangannya guna mendapatkan informasi di website sebagai penunjang mendapatkan hak kesetaraan,” paparnya ketika menjadi pemateri dalam acara Webinar “Literasi digital untuk Perempuan Indonesia” dari Kantor Kominfo, Jakarta, Selasa (30/06/2020).

Meski sudah berselang dua tahun, kesenjangan itu masih terjadi, meski tidak sampai besar jika diperbandingkan antara laki-laki dan perempuan. “Kalau kita melihat data terkait potret tentang kondisi perempuan di dunia maupun di Indonesia dalam konteks digitalisasi, maka ada 58% pria yang punya akses terhadap internet secara global. Tetapi, untuk perempuan hanya 48%. Kalau kita melihat digital use gap-nya itu, artinya internet access teknologi digital kepada perempuan itu memang masih terbatas dibandingkan dengan pria,” jelasnya. 

Dedy menilai, penggunaan internet untuk perempuan hingga kini masih memiliki “pekerjaan rumah” bagaimana memperkecil kesenjangan yang ada secara coverage maupun secara substansial.  “Jadi, Kominfo berkejaran dengan waktu untuk menghadirkan internet di Indonesia. Saat ini, Kominfo sedang mempercepat hadirnya akses internet menjadi dua pembangunan infrastruktur yang utama,” tuturnya.

Percepatan Digitalisasi Nasional

Menyikapi adanya digital use gap perempuan di era digital, maka menurut Dedy percepatan Digitalisasi Nasional Indonesia perlu dilakukan supaya dunia digital ini bisa dinikmati oleh seluruh masyarakat Indonesia, khususnya bagi kaum perempuan dalam memanfaatkan peluang-peluang yang ada.

Dedy menyatakan, Pemerintah saat ini sedang mengupayakan digitalisasi nasional guna menyiapkan percepatan transformasi digital menuju masyarakat digital Indonesia. Oleh karena itu, Kementerian Kominfo mebangun jaringan sinyal 4G agar merata di seluruh desa dan kelurahan di Indonesia. 

Menurut Stafsus Menteri Kominfo Bidang Literasi Digital, data dari Badan Aksesibilitas dan Telekomunikasi Indonesia (BAKTI) Kementerian Kominfo menunjukkan 12.548 dari 83.218 desa dan kelurahan di Indonesia yang belum memiliki akses 4G dan direncanakan akan terselesaikan pada akhir tahun 2022 guna memeratakan tersedianya akses internet 4G.

“Kalau 2G dan 3G itu sudah ada, coverage-nya lebih besar sekitar 56,8%. Tetapi yang 4G ini yang penting karena internet berkecepatan tinggi atau broadband internet akses,” terang Dedy.

Dedy melanjutkan, Kementerian Kominfo juga berupaya keras memperkuat layanan publik melalui Satelit Satria, yang jumlahnya kini mencapai 150 ribu titik layanan mencakupi antara lain: Posyandu, Puskesmas, rumah sakit, kantor kelurahan,  desa, kecamatan, dan kabupaten serta kota.

“Ketika kita berbicara tentang produktivitas di dalam penggunaan Internet, maka Indonesia ini agak tertinggal dari negara-negera lain di Asia Tenggara. Negara-negara lain itu cenderung menggunakan Internet untuk kebutuhan yang produktif, sedangkan Indonesia menggunakan Internet untuk tujuan yang bisa diasosiasikan dengan penggunaan yang kurang produktif, yakni social networking,” tutur Dedy.

Kecakapan Digital

Dedy menambahkan, di samping infrastruktur, Kominfo ingin memastikan sumber daya manusia termasuk perempuan agar siap menggunakan layanan Internet 4G. Untuk mempersiapkan SDM ini, Kementerian Kominfo memetakannya ke dalam tiga level kecakapan digita yakni pada level dasar, menengah, dan tinggi. 

“Di level paling dasar adalah literasi digital. Sedangkan di level menengah ada Digital Talent Scholarship (DTS), dan di level tinggi ditujukan untuk para pimpinan. Kesemuanya itu menjadi prasyarat untuk percepatan transformasi digital,” paparnya.

Lebih lanjut, kata Dedy,  untuk di level dasar yang disebut sebagai basic digital skill, Kominfo bekerja sama dengan ekosistem gerakan nasional literasi digital Siberkreasi untuk peningkatan literasi digital kepada 172 juta pengguna internet di Indonesia.

Di level menengah, menurut Dedy saat ini Indonesia masih menghadapi tantangan digital skills gap atau kesenjangan talenta digital. Hal itu terjadi karena kebutuhan tenaga kerja ahli dalam bidang digital masih belum tercukupi. Oleh karena itu, Kementerian Kominfo berupaya membekali tenaga kerja di Indonesia dengan Program Stimulus Pelatihan DTS 2020.

“Setelah literasi digitalnya beres, lewat program tersebut teman-teman bisa upgrade skill. Kita bijak bermedia sosial, maka kita bisa naik kelas melalui DTS yang bisa diakses di digitalent.kominfo.go.id, juga untuk literasi bisa diakses melalui literasi.id, siberkreasi.id, dan pandudigital.id,” paparnya. 

Selaras denga hal tersebut, dalam hal memastikan kebijakan digital dapat menyentuh semua lapisan baik dari sisi pengambilan kebijakan sampai kepada seluruh segmen masyarakat termasuk perempuan, di level paling atas atau advance skill para pimpinan dibekali keahlian untuk bertransformasi digital.

“Hal yang sangat penting adalah C-Level untuk publik dan private sektor. Nah, Kominfo membangun secara komprehensif ketiga cara tersebut,” jelasnya.

Di akhir pemaparannya Dedy menyampaikan satu quote dari Founder World Economic Forum (WEF) yang mengatakan “Bukan Ikan yang besar yang memakan ikan yang kecil.  Tetapi, Ikan yang cepat yang memakan ikan yang lambat”. Artinya, di era transformasi digital ini semuanya harus bergegas, memliki ketapatan yang tinggi untuk mengejar ketertinggalan. 

Oleh karena itu, Dedy mengajak para penggerak atau aktivis yang memiliki concern dalam isu perempuan untuk segera bergegas dan harus menjadi bagian yang bisa menikmati serta memanfaatkan transformasi digital.

“Kalau lambat kita bisa kalah dimakan sama yang cepat itu, karena potensi peluangnya sangat besar. Begitu juga halnya dengan Kominfo, dalam beberapa bulan terakhir ini sedang berjuang keras bagaimana mempercepat transformasi digital dari sisi infrastruktur maupun sumber daya manusia. Salam sehat dan salam hormat. Selalu jaga kesehatan, jangan lupa pakai masker,” tutupnya seraya memberi pesan kepada 120 peserta webinar agar berpartisipasi mencegah Covid-19.

Bagi dan Sebarkan :
0Shares
0 0
x

Check Also

Indonesia Jadi Perlintasan Komunikasi Data Dunia

Ekonomi digital Indonesia memiliki valuasi di atas USD130 miliar dan menjadikan Indonesia ...